Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mundur setelah pemimpin Ukraina itu mengkritik rencana pasokan diesel Rusia ke AS. Zelensky menilai kesepakatan tersebut dapat memberi Moskow dana untuk melanjutkan perang, sementara Trump menyebut serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia menimbulkan masalah bagi dunia. Ketegangan keduanya mencuat di tengah gejolak pasokan bahan bakar dan perang yang masih berlangsung. Trump juga menyatakan Ukraina sebaiknya memiliki presiden baru. Zelensky membalas bahwa rakyat Ukraina, bukan pemimpin negara lain, yang berhak menentukan siapa pemimpin mereka. Kritik Zelensky atas pasokan diesel Rusia Zelensky memperingatkan bahwa masuknya jutaan ton diesel Rusia ke Amerika Serikat akan menjadi sumber dana bagi Moskow. Menurut dia, uang dari pasokan energi itu berpotensi digunakan untuk memperoleh peralatan militer dan meneruskan perang terhadap Ukraina. Ia juga menuduh Rusia akan membaca kesepakatan tersebut sebagai tanda bahwa negara itu masih bisa melanjutkan perang dan menjatuhkan bom ke kota-kota Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan mematikan terbaru di Zaporizhzhia. Pasokan bahan bakar global, termasuk diesel, tengah terbatas. Perang yang dipicu Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menyebabkan Selat Hormuz tertutup. Jalur tersebut merupakan lintasan penting bagi sekitar seperlima produk minyak dunia. Di tengah tekanan pada pasar energi, Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas transportasi Rusia. Langkah itu menambah tekanan terhadap pasokan, tetapi Trump menilai serangan ke kilang minyak Rusia turut memicu persoalan bagi konsumen energi. “Kami bilang, ‘Anda boleh melakukan apa saja terhadap Rusia, tapi jangan serang kilang-kilang minyaknya’, karena hal itu menimbulkan masalah bagi dunia,” ujar Trump. Trump juga mengatakan Zelensky sebenarnya dapat membuat banyak kesepakatan, tetapi tidak melakukannya. Di luar Gedung Putih pada Sabtu, 10 Oktober, ia menyatakan, “Sudah saatnya Ukraina memiliki presiden baru.” Ia kemudian menambahkan bahwa Zelensky sebaiknya benar-benar berhenti dari jabatannya. Trump kritik serangan Ukraina ke kilang minyak Desakan mundur itu muncul setelah Trump mengumumkan penangguhan sementara sanksi terhadap pasokan besar solar Rusia. Langkah tersebut, menurut laporan yang dirujuk, dimaksudkan untuk membantu menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada November. Trump mengaitkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia dengan kenaikan harga diesel. Ia menyerukan agar Zelensky digantikan pemimpin yang mampu mengakhiri perang. Sikap itu memicu reaksi keras dari Ukraina, sejumlah sekutu AS di Eropa, bahkan sebagian kalangan Partai Republik. Utusan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, menyambut intervensi Trump sebagai sesuatu yang “ikonik dan bersejarah”. Ia mengatakan Ukraina membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar berfokus pada perdamaian. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan benturan kepentingan antara upaya menekan harga energi dan strategi Ukraina menghadapi invasi Rusia. Bagi Kyiv, serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan bagian dari perang, sedangkan Trump menyoroti dampaknya pada pasokan dan harga bahan bakar. Zelensky: pemilu ditentukan rakyat Ukraina Menanggapi desakan Trump, Zelensky menegaskan bahwa pemimpin Ukraina dipilih oleh rakyatnya. “Dengan segala hormat kepada Presiden Trump, terserah pada masyarakat kami, terserah pada rakyat kami untuk memilih pemimpin yang satu atau yang lainnya,” kata Zelensky dalam wawancara dengan ABC News. Ukraina, menurut Zelensky, dapat menggelar pemilihan umum jika Rusia menyetujui gencatan senjata penuh selama 60 hari. Ia menyebut telah menyampaikan pesan itu kepada pihak Trump: bila Washington menginginkan pemilu pertama sejak invasi Rusia, Presiden Vladimir Putin perlu diminta memberi jeda perang selama dua bulan. Zelensky juga menegaskan Ukraina siap menyepakati gencatan senjata, termasuk penghentian serangan yang terbatas pada infrastruktur energi, apabila Rusia bersedia. Namun, serangan besar-besaran Rusia pada pekan itu menunjukkan, menurutnya, Moskow belum merasakan tekanan nyata untuk mengakhiri perang. Ia menggambarkan pekan tersebut sebagai masa yang berat, terutama karena serangan terhadap infrastruktur sipil. Zelensky menyebut sektor energi Ukraina diserang 196 kali, khususnya jaringan listrik, ditambah 20 serangan terhadap sektor gas dan minyak. Ia juga mengatakan 153 warga sipil telah tewas sejauh ini. Di tengah perselisihan dengan Trump, Zelensky berharap dukungan Amerika Serikat tidak terganggu. Ia mengatakan Ukraina juga mengandalkan mitra-mitra Eropa dan berharap persatuan antara Eropa dan AS tetap terjaga. Ke depan, sikap para sekutu terhadap gencatan senjata, sanksi energi, dan dukungan bagi Ukraina akan menjadi penentu penting bagi upaya menghentikan perang. Post navigation Protes Pelajar Prancis: Anggaran Besar, Sekolah Rapuh Eksekusi Nidal Hasan, Wacana Siaran Langsung Picu Kecaman