Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Tabanan menurun hingga Oktober 2026, tetapi Kecamatan Kerambitan masih menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi. Dinas Kesehatan Tabanan menyebut musim kemarau yang cukup panjang dan meningkatnya keterlibatan warga dalam pemberantasan sarang nyamuk turut memengaruhi penurunan tersebut. Sekretaris Dinas Kesehatan Tabanan, dr. Wayan Arya Putra Manuaba, mengatakan berkurangnya genangan air selama musim kemarau mengurangi tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk. Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ancaman DBD telah berakhir. “Penurunan kasus ini patut disyukuri, tetapi masyarakat tetap harus waspada. Pemeriksaan jentik dan kebersihan lingkungan perlu dilakukan secara rutin agar perkembangbiakan nyamuk bisa dikendalikan,” ujarnya. Kerambitan tertinggi, Kediri menyusul Data Dinas Kesehatan Tabanan menunjukkan kasus DBD tersebar di sejumlah kecamatan. Setelah Kerambitan, Kediri mencatat 18 kasus, disusul Kecamatan Tabanan dengan 14 kasus dan Baturiti sebanyak 13 kasus. Penebel, Selemadeg, dan Selemadeg Timur masing-masing mencatat delapan kasus. Marga melaporkan enam kasus, Pupuan empat kasus, sedangkan Selemadeg Barat menjadi wilayah dengan jumlah paling sedikit, yakni dua kasus. Dalam data yang disampaikan, angka khusus untuk Kerambitan tidak dirinci. Dinas Kesehatan juga menyatakan belum menemukan kematian akibat DBD sepanjang 2026 hingga Oktober. Kondisi tersebut menjadi kabar baik, tetapi tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan karena penularan dapat terjadi ketika lingkungan mendukung perkembangbiakan nyamuk. Arya menjelaskan, jumlah kasus tidak hanya berkaitan dengan cuaca. Mobilitas penduduk dan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan juga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit. Karena itu, pencegahan perlu dijalankan bersama, baik di rumah maupun di tempat umum. Jumantik keluarga dan gerakan 3M Plus Salah satu upaya yang terus didorong Dinas Kesehatan Tabanan ialah program satu rumah satu juru pemantau jentik atau Jumantik. Setiap keluarga diharapkan menunjuk seorang anggota untuk memeriksa tempat penampungan air dan memastikan tidak ada jentik nyamuk. Pemeriksaan rutin di rumah dinilai penting agar potensi perkembangbiakan nyamuk dapat diketahui lebih awal. Warga juga diminta tidak menunggu munculnya kasus di lingkungan sekitar sebelum mulai melakukan pemberantasan sarang nyamuk. “Kami mengajak setiap keluarga menjadikan pemeriksaan jentik sebagai kebiasaan. Jangan menunggu ada kasus DBD di lingkungan sekitar baru melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” kata Arya. Selain mengaktifkan Jumantik keluarga, Dinas Kesehatan mengintensifkan promosi kesehatan, sosialisasi pencegahan DBD, dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin setiap pekan. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keterlibatan warga, terutama ketika perubahan cuaca kembali memungkinkan munculnya genangan air. Masyarakat diimbau menjalankan 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air. Upaya itu perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing agar tempat-tempat yang berisiko tidak luput dari pemeriksaan. Kewaspadaan perlu dijaga saat kondisi berubah Penurunan kasus di Tabanan terjadi setelah jumlah DBD di kabupaten itu sempat berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Data yang disampaikan Dinas Kesehatan menunjukkan kasus mencapai 1.569 pada 2024, kemudian turun menjadi 664 pada 2025. Perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa angka kasus dapat bergerak naik atau turun, sehingga pencegahan tidak cukup dilakukan hanya saat penularan meningkat. Kerambitan yang masih berada di posisi tertinggi perlu mendapat perhatian, tetapi upaya pengendalian bukan hanya tanggung jawab satu kecamatan. Kebiasaan memeriksa jentik, menjaga kebersihan, dan mengelola barang yang berpotensi menampung air perlu diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah Tabanan. Dinas Kesehatan berharap partisipasi masyarakat dapat mempertahankan tren penurunan sekaligus mencegah peningkatan penularan ketika kondisi cuaca berubah. Pemeriksaan lingkungan secara rutin menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan warga untuk menjaga kewaspadaan tetap berjalan, tanpa menunggu munculnya kasus di sekitar rumah. Post navigation Menstrual Cup Bisa Dipakai Lama, Kebersihan Tetap Penting Risiko Skin Booster: Pahami Sebelum Treatment