Aliran minyak dari Timur Tengah kembali melampaui tingkat sebelum konflik, tetapi harga minyak dunia belum ikut turun. Pada Senin, 5 Oktober 2026, minyak mentah Brent masih diperdagangkan di atas 101 dolar AS per barel—sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat ke Iran pada Februari lalu.

Perbedaan antara pulihnya volume ekspor dan bertahannya harga menunjukkan bahwa pasokan yang kembali mengalir belum serta-merta menghapus tekanan di pasar. Bagi Indonesia, harga tinggi itu menjadi perhatian karena asumsi harga minyak dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 76 dolar AS per barel.

Ekspor Timur Tengah melampaui tingkat sebelum konflik

Data firma intelijen perkapalan Kpler yang dikutip Reuters mencatat ekspor minyak dari Timur Tengah mencapai 19,5 juta barel per hari pada 24 September. Angkanya kemudian meningkat menjadi 22,5 juta barel per hari pada periode 27–29 September.

Jumlah tersebut lebih tinggi daripada rata-rata ekspor sebelum perang, yakni sekitar 18 juta barel per hari. Minyak tidak hanya melintasi Selat Hormuz, tetapi juga dikirim melalui Laut Merah. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia.

Iran menutup selat itu sejak awal konflik. Gangguan pada jalur penting tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak sepanjang tahun ini. Kini, ketika arus ekspor kembali deras, harga Brent masih bertahan jauh di atas tingkat sebelum perang.

Volume pasokan bukan satu-satunya penentu harga

Angka ekspor yang meningkat menggambarkan banyaknya minyak yang keluar dari kawasan, tetapi tidak otomatis menjelaskan seluruh pembentukan harga. Brent, sebagai patokan minyak mentah, masih berada di atas 101 dolar AS per barel. Dengan demikian, pulihnya aliran minyak belum cukup untuk membawa harga kembali ke posisi sebelum konflik.

Biaya pengangkutan menjadi salah satu faktor yang disebut dalam laporan. Sejumlah sumber Reuters mengatakan diskon yang diumumkan Arab Saudi untuk pasar Asia diberikan sebagai kompensasi atas melonjaknya biaya sewa kapal tanker. Hal ini memperlihatkan bahwa perjalanan minyak tetap memiliki ongkos yang ikut diperhitungkan dalam perdagangan.

Arab Saudi menyatakan akan memberi diskon 5 dolar AS per barel bagi pembeli di Asia mulai November. Nilai itu merupakan diskon terbesar yang diberikan Riyadh sejak Juni 2020. Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku merata: Saudi justru menaikkan harga untuk pasar Eropa dan Mediterania.

Dampak bagi Indonesia belum berhenti pada angka ekspor

Perbedaan perlakuan harga antarpasar dan tingginya biaya tanker menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas di balik harga minyak. Karena itu, kembalinya volume ekspor ke tingkat normal tidak serta-merta berarti biaya memperoleh dan mengirim minyak juga langsung kembali seperti sebelum konflik.

Situasi tersebut relevan bagi Indonesia. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di angka 76 dolar AS per barel, sedangkan Brent pada 5 Oktober masih lebih dari 25 dolar di atas patokan itu. Selisih tersebut memberi tekanan pada perhitungan ekonomi, meski dampaknya terhadap harga BBM tidak dapat disimpulkan hanya dari angka ekspor kawasan.

Harga minyak mentah dan harga BBM yang dibayar konsumen merupakan hal yang berbeda. Bahan yang tersedia menunjukkan bahwa Brent masih mahal, tetapi tidak memuat rincian mekanisme penetapan harga BBM di Indonesia. Karena itu, besarnya aliran minyak saja belum cukup untuk memastikan kapan harga di tingkat konsumen akan berubah.

Pasar masih mencermati perkembangan berikutnya

Bloomberg dan The Economist, sebagaimana dirangkum dalam laporan Suara.com, disebut mencatat setidaknya lima alasan harga minyak tetap tinggi meski ekspor Timur Tengah pulih. Namun, rincian kelima alasan itu tidak dijabarkan dalam bahan yang tersedia. Faktor yang secara eksplisit disebut di antaranya adalah biaya sewa kapal tanker, sementara data harga dan ekspor menunjukkan bahwa pemulihan pasokan belum mengakhiri tekanan pasar.

Diskon Saudi untuk Asia dapat membantu menekan biaya bagi pembeli di kawasan mulai November, tetapi kebijakan itu berjalan berdampingan dengan harga Brent yang masih tinggi dan ongkos pengangkutan yang melonjak. Perkembangan harga ke depan akan bergantung pada bagaimana pasar menilai pasokan, biaya pengiriman, dan situasi konflik—bukan semata-mata pada banyaknya minyak yang kembali mengalir melalui jalur perdagangan.