Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali dalam beberapa hari terakhir dipicu keterlambatan bongkar muat kapal tanker Pertamina. Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan kapal kesulitan memasang jangkar saat hendak membongkar muatan di perairan Bali, sehingga jadwal pengiriman BBM ke SPBU ikut terganggu.

Proses bongkar muat yang semestinya dimulai pukul 06.30 Wita baru berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 Wita. Keterlambatan berjam-jam itu terjadi di tengah tingginya permintaan masyarakat, terutama terhadap Pertalite, dan memicu antrean kendaraan di sejumlah SPBU.

Simon menyampaikan penjelasan tersebut di Depo Pertamina Sanggaran, Denpasar. Ia menegaskan gangguan teknis kapal bukan alasan untuk mengabaikan dampak yang dirasakan warga. Pertamina, kata dia, meminta maaf atas kelangkaan dan antrean yang terjadi.

Kendala jangkar menunda pasokan ke SPBU

Menurut Simon, salah satu kapal Pertamina mengalami kesulitan pada bagian jangkar ketika akan melakukan discharge atau pembongkaran kargo. Akibatnya, kegiatan yang telah dijadwalkan sejak pagi molor hingga malam. Waktu yang hilang itu berdampak pada rantai pasok BBM ke stasiun pengisian di Bali.

Gangguan tersebut menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan dalam beberapa hari terakhir. Namun, Simon tidak menyebut persoalan kapal sebagai satu-satunya faktor. Ia juga menyoroti lonjakan kebutuhan masyarakat yang memperbesar tekanan terhadap pasokan di lapangan.

Permintaan terhadap Pertalite menjadi perhatian khusus. Simon menilai selisih harga yang cukup jauh antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi mendorong peningkatan penggunaan bahan bakar bersubsidi. Perubahan permintaan itu, bersamaan dengan keterlambatan bongkar muat, membuat penyaluran perlu segera dipulihkan.

“Kejadian ini tidak untuk mencari pembenaran bagi kami. Bagaimanapun juga yang terpenting adalah pelayanan bagi masyarakat,” kata Simon.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas antrean panjang dan kesulitan mendapatkan BBM yang dialami warga Bali. Pernyataan itu disampaikan di tengah keluhan masyarakat terkait ketersediaan bahan bakar di sejumlah SPBU.

Pertamina tambah pasokan dan jam operasional

Untuk menangani gangguan distribusi, Pertamina menyiapkan penyaluran puluhan juta liter BBM. Pasokan tersebut diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan Bali selama sekitar dua pekan. Penyaluran pertama disebut telah tiba dan mulai didistribusikan, sementara pasokan berikutnya dijadwalkan masuk secara bertahap pada 15, 16, dan 17 Oktober.

Pertamina juga mengatur agar 92 SPBU di wilayah Denpasar dan Badung beroperasi selama 24 jam. Kebijakan operasional nonstop itu diterapkan mulai malam 13 Oktober. Depo Pertamina Manggis dan Sanggaran turut dijadwalkan beroperasi 24 jam untuk mendukung kelancaran penyaluran.

Kapasitas distribusi melalui mobil tangki juga ditambah. Jumlah armada yang semula 90 unit ditingkatkan menjadi 105 unit. Penambahan tersebut ditujukan untuk mempercepat pengiriman BBM dari depo menuju SPBU di wilayah terdampak.

Pemulihan distribusi bergantung pada pasokan

Rangkaian langkah tersebut menunjukkan penanganan tidak hanya bertumpu pada tambahan pasokan, tetapi juga pada waktu operasi fasilitas dan kapasitas pengangkutan. Dengan SPBU dan depo beroperasi lebih lama, Pertamina berupaya menjaga BBM tetap tersedia saat pengiriman berikutnya berlangsung.

Meski demikian, kepastian pemulihan di tingkat SPBU akan bergantung pada kelancaran penyaluran bertahap serta kemampuan distribusi memenuhi kebutuhan masyarakat. Lonjakan permintaan Pertalite juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menjaga pasokan.

Pertamina menyatakan pasokan yang disiapkan diproyeksikan mencukupi kebutuhan Bali hingga dua pekan. Bagi warga, ukuran terpenting dari upaya itu adalah berkurangnya antrean dan ketersediaan BBM yang kembali normal. Perkembangan distribusi dalam beberapa hari berikutnya akan menentukan seberapa cepat gangguan di lapangan dapat diatasi.