Jarwo Kwat kini lebih disiplin menjaga kesehatan dengan mengatur pola makan dan rutin berolahraga. Komedian itu berlatih di gym sekitar tiga kali dalam sepekan, membatasi porsi nasi, serta memilih menu yang menurutnya lebih baik untuk tubuh.

Perubahan kebiasaan tersebut berangkat dari kesadarannya bahwa makanan yang dikonsumsi sehari-hari perlu diperhatikan. Jarwo mengaku berusaha lebih selektif memilih hidangan dan tidak lagi sekadar mengikuti selera saat makan.

“Kalau kuliner makanan ngaco, bisa berpotensi kolesterol tinggi. Nggak dilihat mana yang sehat dan mana yang tidak,” kata Jarwo Kwat, dikutip dari video YouTube Podcast Wawancanda.

Menu sederhana jadi pilihan Jarwo Kwat

Dalam kesehariannya, Jarwo mulai memperhatikan komposisi makanan. Untuk sarapan, ia memilih menu sederhana berupa telur rebus dan roti gandum. Porsi nasi juga berusaha ia batasi, sementara lauk dan sayuran tetap melengkapi makanannya.

Dada ayam kukus menjadi salah satu pilihan sumber protein yang ia konsumsi. Pilihan menu tersebut menunjukkan perubahan cara pandangnya terhadap makanan: bukan hanya untuk mengenyangkan, tetapi juga memperhatikan asupan gizi.

Jarwo tidak merinci seluruh menu yang disantap setiap hari. Namun, ia menyebut kebiasaan memilah makanan sebagai bagian dari upaya menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Pengaturan makan itu berjalan beriringan dengan aktivitas fisik yang kini ia lakukan secara lebih teratur.

Latihan gym tiga kali dalam sepekan

Jarwo menyempatkan diri berlatih di pusat kebugaran sekitar tiga kali seminggu. Setiap sesi berlangsung maksimal 1,5 jam. Ia juga menambahkan latihan kardio di treadmill, yang dilakukan sekitar dua kali dalam sepekan.

Rutinitas tersebut menjadi bagian dari usahanya menjaga kebugaran, bukan semata mengejar perubahan penampilan. Jarwo mengatakan ia merasakan dampak positif setelah mulai nge-gym, terutama pada kondisi tubuh dan waktu istirahatnya.

“Sekarang, yang saya rasakan setelah nge-gym adalah badan menjadi lebih segar. Selain itu tidur enak dan teratur,” ujarnya.

Perubahan yang ia rasakan itu membuat olahraga menjadi kebiasaan yang terus dijalani. Meski begitu, Jarwo menyampaikan pola latihan dan makan tersebut sebagai pengalaman pribadinya, bukan sebagai resep yang harus diikuti semua orang.

Memahami kolesterol dan kebugaran

Dalam perbincangan di podcast yang sama, dr. Rianti menjelaskan perbedaan LDL dan HDL. LDL atau low-density lipoprotein kerap disebut kolesterol jahat. Jika kadarnya berlebihan, LDL dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak di dinding pembuluh darah.

Sementara itu, HDL atau high-density lipoprotein dikenal sebagai kolesterol baik. HDL membantu membawa kolesterol kembali ke hati untuk diproses. Penjelasan tersebut memberi konteks pada kekhawatiran Jarwo mengenai pilihan makanan dan risiko kolesterol tinggi.

Kolesterol sendiri dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel dan memproduksi hormon. Namun, kadar tertentu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

Bagi Jarwo, memperhatikan makanan dan menyisihkan waktu untuk berolahraga kini menjadi bagian dari rutinitas. Kebiasaan itu ia jalani demi menjaga kebugaran dan merasakan tubuh yang lebih segar. Konsistensi dalam menjalankannya akan menjadi kunci bagi upaya tersebut ke depan.